FINE ART PHOTOGRAPHY
 
         
 
Displat @ Make-up Orthopedia
under constructions
Make-up Orthopedia #1
Sebuah Transparasi Niai estetika Positif.
@ Bali Creative Festival 2010 - Bali
Mau creambath, mbak?
'Salon Steamer Indra Wid'
Salon Al Ma
 
 
Sebuah representasi terbuka bagi karya kolaborasi kami ini, untuk lebih memberikan ruang yang mempunyai volume, dan memberikan intepretasi ke dua selain dari hal-hal sekedar tampak saja. Membangun sebuah citra baru dalam fotografi kontemporer, para perupa berbasis fotografi Komunitas Lingkara tidak lagi melihat ke dalam bentuk panjang dan lebarnya sebuah karya tersebut. Melakukan interaksi semiotik (tanda) terkait dengan ruang dan volume imajiner.
Konsep secara luas tersebut, mewakili apresiasi kami pada dunia 'melukis dengan cahaya' yang hingga saat ini masih dikenal dengan sebutan 'salon foto'. Entah apa itu yang disebut dengan salon foto tersebut, namun disana sangat familiar dan terkenal dengan istilah: setting. Menampilkan foto cantik/bagus dengan istilah setting pada salon foto tersebut cukup menjadi perhatian kami, setidaknya kami mendiskusikannya apa istilah setting dalam salon foto. Tangkapan istilah: setting dalam pikiran kami adalah sebuah konsep. Namun konsep itu sendiri bukan dimaksudkan untuk membuat situasi yang tidak sesunguhnya. Agak berbeda kami menegaskan bahwa setting dalam konsep kami adalah tentang penyampaian maksud sesungguhnya dengan wajar dan fashionable. Tentu untuk saat ini, para perupa foto sudah cukup bisa menebak mana foto yang wajar mana foto yang mempunyai maksud di balik cerita ddalam sebuah karya.
 
Berfoto di ruang 'salon foto'.
Dalam set-up sebuah ruangan yang berbentuk segi lima, kami membuat sebuah ruangan biru yang kami lengkapi dengan kursi seperti selayaknya dalam sebuah salon (ruang merias). Karya yang kami gelar juga berisi tentang aktifitas dalam salon tersebut, seperti maskeran, make-up, steam, potong rambut, dan lain-lain. Kami menyampaikan isi/pesan tersebut dalam konteks yang vulgar. Misalnya seperti: maskeran dengan jeruk, kamipun tinggal memotong jeruk dan ditempelkan ke wajah model. Membuat setting konsep dengan segala bentuk penyindiran yang gamblang dan cepat, dikaitkan dengan segala aktifitas sebuah salon.
 
Salon Aries Santhana Salon DP Arsa
 
Salon DP Arsa
'Salon New Look Patrick Lumbanraja'
 
Terkait dengan imajinasi kami tentang kata 'salon' disampaikan dengan beberapa teknis pengambilan foto 'low-speed' (blur), siluet, atau make-up ala wayang gong Bali. Pemilihan material dan warna pada karya foto kami ini disampaikan dengan gaya pop-art.
 
Salon Al Ma
More Photo's >>>
 
 
 
CARA PANDANG KAMI:
SEBUAH SETTING VS KONSEP
Melampaui Kerasionalan Kreatif
Dalam Karya Foto
Entah istilah yang mana orang akan menyebutkan, namun kami tidak ingin menghasilkan karya dengan cara 'memutar waktu' pada momen-momen yang sudah lewat dan telah terjadi.
 
 
 
 
'Setting' atau Konsep, bagaimana kami memilihnya? Ada yang menyebutkan bahwa sebuah karya fotografi yang baik adalah dengan menghindarkan istilah 'setting' atau merekayasakan obyek sesungguhnya, atau menghasilkan foto dengan tidak sewajarnya. Lalu apakah setting dilarang? Tentu memerlukan sebuah kearifan eksekusi menentukan pilihan pemotretan tersebut. Bila seorang petani di sawah yang hijau memakai sebuah pakaian yang mash baru berwarna merah/kuning menyala, merokok dengan nyaman bersama asap tebal yang bermotif atau bergaris membentuk 'rim-light' bagus, dan tampak ada bermacam sumber cahaya datang, tentu akan menjadi sebuah pertanyaan: wajarkah situasi tersebut? Tentu bagi seorang jurnalis berpengalaman, atau seorang fotografer yang 'jam terbangnya sudah tinggi' akan dengan mudah menilainya.
Lalu bagaimana dengan pemakian istilah konsep? Toh setting tersebut dihasilkan untuk memenuhi konsep tertentu yang diinginkan bukan? Bukankah terlihat mirip antara setting dibelakang konsep atau sebaliknya? Tentu kita tidak boleh melupakan sosok seorang Henry Cartier Bresson, si bapak 'Decieve Moment' yang menegaskan akan teori 'Momen Puncak' sebuah realita. Realita disini adalah sebuah peristiwa yang dilihat dan ada sewajarnya. Tentu saja diperlukan kemampuan 'memprediksi' sebuah kejadian tersebut. Sekali terlewat momen tersebut, hilanglah kesempatannya menangkap momen emas itu. Sekali tidak jeli melihat akan peristiwa yang akan terjadi, rugilah kita. Mungkin akhirnya, dari sanalah banyak fotografer berusaha 'memutar waktu' kepada momen puncak yang sudah lewat tersebut dengan membuat setting. Disinilah 'tercurinya waktu' seorang fotografer sehingga memerlukan sebuah 'setting' realita - akibat kehilangan momen! Sedangkan konsep, adalah sebuah peta 'eksekusi' karya foto yang sudah dipersiapkan dari awal hingga akhir.
 
Itu adalah salah satu cara kami dalam berkarya. Konsep memang diperlukan sehingga penentuan hasil foto juga sangat terarah. Tapi, apakah konsep juga sebuah eksekusi final dalam karya-karya kami? Tentu saja tidak, karena seperti menentukan sebuah judul buku atau foto itu sendiri, bisa dibelakang atau di depan proses ketika membuat karya tersebut. Konsep, adalah upaya membangun sebuah realita. Ini tipis sekali dengan pengertian lebih lanjut dengan istilah setting pada akhirnya. Bisa jadi ketika ketika kami memotret sebuah jemari tangan untuk menunjukkan lentik jemari tersebut, menjadi artian yang lain ketika diarahkan untuk 'bersanding' dengan jemari kaki yang kotor dan lusuh. Tentu harus dibangun sebuah narasi penerjemahan maksud dalam bentuk konsep.
 
 
 
Entah istilah yang mana orang akan menyebutkan, namun kami tidak ingin menghasilkan karya dengan cara 'memutar waktu' pada momen-momenz yang sudah lewat dan telah terjadi. Setting waktu tersebut mungkin akan kami pergunakan untuk keperluan komersil advertising yang sifatnya bisa dipesan dan diulang-ulang. Namun, kami juga tidak mau menghasilkan karya dengan berlindung di belakang konsep dan hasil karya yang 'seadanya' dan ngotot mempertahankan argumen bahwa karya tersebut adalah karya yang harus dihargai. Semua itu tentu menyangkut kejelian perupa foto pada sebuah tampilan akhirnya, ketika mampu memberikan apresiasi yang berkesan bagi para penikmatnya. (-iw-)
 
More Photo's >>>
 
 
 
exhibitions:
 
 
Make-up Orthopedia #1 >>>   Playstic Land >>>
@ Bali Creative Festival 2010 @ Denpasar Festival 2010
"Melakukan interaksi semiotik (tanda) terkait dengan ruang dan volume imajiner."
"Terinspirasi pada pedagang asogan, toko kelontong, dan tempat bermain anak-anak, kami membuat instalasinya."
   
HypomaniCam >>>   Beyond Photography >>>
@ Tonyraka Gallery Ubud 2011 @ Ciputra Arterpreneur - Jakarta 2011
HypomaniCam bermakna “hypomania fotografi”: fotografi yang didorong untuk melampaui produktivitas normalnya.
"Pameran Bersama perupa foto kontemporer Indonesia."
   
Make-up Ortopedia #2 >>>   Playstic Land Effects >>>
@ Bali Creative Festinal 2011 @ STP Youthteria - Kuta 2011
"Karya kolaborasi dari perupa foto Lingkara yang mempergunakan media sampah sebagai media dan obyek karya."
"Mini projek ini akan menjadi karya andalan berdialog kami melalui media transparan plastik dalam bentuk seri."
   
 
 
artCipelago
ArtCipelago, adalah sebuah ruang Program Lingkara yang berisi kegiatan untuk berkomitmen dan mengaktualisasikan eksplorasi karya fotografi secara kreatif. Di dalam Program ini, terdapat Kegiatan (disebut: artvities) yang sifatnya sebuah kolaborasi melalui konsep fotografis. Fotografis bisa berarti medium atau media fotografi itu sendiri, namun kami menerjermahkannya sebagai 'cara pandang' untuk berkarya fotografi yang berbasis seni rupa.

ArtCipelago, is a space that contains Lingkara Program activities to actualize committed and creative exploration of photographic work. Within this program, there are Activities (called: artivities) that are a collaboration through photographic concept. Photographic, could mean the medium or the medium of photography itself, but we see it as an attempt 'outlook' for work-based in fine art photography.

artivities:
updates soon, in february, 2012
DOF
DOF: destination of field - personal/Lingkara project artivities
Jiwa - Budhiana by Totok
Koempoel Rebo by Prinz Jo
Tilik Mes56 by Indra Widi
dokumentasi buku karya Made Budhiana makan bareng with anak jalanan @ Waroong Obey menengok aktifitas gallery Mes56 Jogja
 
>>>
 
aliensi
aliensi: community project activities collaboration
Waroong Obey 17an
Charity for Merapi
Dokumentasi Gestur, ADGI, Mebase genep
with deBuntu & Botol Bening with Teater Orok Noceng, Djamur Komunitas with ADGI Bali
 
>>>
 
fotogramm
fotogramm: personal project presentations
Hellusinasi
Sexy Nudi - 'Penguasa Dunia Bawah'
Komik 'Junk Food'
present: Indra Widi
present: Sangut Santoso
present: Bambang Sableng
moderator:
moderator: -
moderator:
-
-
-
-
-
-
date: -
date: -
date: -
location: Bangsal Merdeka - Renon
location: Bangsal Merdeka - Renon
location: Bangsal Merdeka - Renon
 
>>>
 
 
fotogramm aliensi c-one DOF full frame darkroom kitchen contact-print view and finder: E-Book
and alien do exist:
If you have artwork that can be share/distributed in the discussion, presensentasion, or exhibited in general, please contact us.
>>> Lingkara Aliens: <<<
do exist in admin, programs, activities, and exhibitions:
 
Yan Palapa Komang 'Totok' Parwata DP Arsa Indra Widi "Dechi" Dewa K Rudita Aries Santhana
>>> profile <<< >>> profile <<< >>> profile <<< >>> profile <<< >>> profile <<< >>> profile <<<
 
 
 

Indra Widi - 03619904000 / Komang ‘Totok’ Parwata - 03617867108 / DP Arsa - 03617464699 / E: alien@lingkara.com

 
all photo's copyright and publishing permission by Lingkara